TOP NEWS

Tampilkan postingan dengan label Faedah Ilmu. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Februari 2013

Niat Syarat Seluruh Amal

Salah satu ilmu alat yang penting dipelajari adalah ilmu qowa'id fiqh (kaedah fikih). Ilmu ini amat membantu sekali untuk menyelesaikan permasalahan fikih. Dengan menguasai dan memahami kaedah, berbagai permasalahan bisa terjawab. Bahkan satu kaedah bisa berlaku untuk banyak bab. Di antara bahasan Qowa'id Fiqh yang menarik dipelajari adalah bait sya'ir yang disusun oleh Syaikh As Sa'di rahimahullah. Mudah-mudahan kami bisa menuntaskan pembahasan ini dan menggali-gali faedah berharga di dalamnya.
النِّيَةُ شَرْطٌ لِسَائِرِ العَمَلِ
بِهَا الصَّلاَحُ وَالفَسَادُ لِلْعَمَلِ
Niat syarat seluruh amal
Karena niat akan baik atau jeleknya suatu amal
Kaedah ini adalah kaedah yang amat bermanfaat dan paling mulia. Kaedah ini berlaku pada setiap cabang ilmu.
Baiknya amal badan dan amal maliyah (harta), begitu pula amal hati dan amal anggota badan, semuanya tergantung niat. Rusaknya amal-amal tersebut juga tergantung niat.
Jika niat seseorang baik, maka baik pula ucapan dan amalannya. Namun jika niat seseorang jelek, maka jelek pula ucapan dan amalan. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niat. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.”[1]
Niat itu ada dua fungsi
Fungsi pertama adalah untuk membedakan manakah adat (kebiasaan), manakah ibadah. Misalnya adalah puasa. Puasa berarti meninggalkan makan, minum dan pembatal lainnya. Namun terkadang seseorang meninggalkan makan dan minum karena kebiasaan, tanpa ada niat mendekatkan diri pada Allah. Terkadang pula maksudnya adalah ibadah. Oleh karena itu, kedua hal ini perlu dibedakan dengan niat.
Fungsi kedua adalah untuk membedakan satu ibadah dan ibadah lainnya. Ada ibadah yang hukumnya fardhu ‘ain, ada yang fardhu kifayah, ada yang termasuk rawatib, ada yang niatnya witir, ada yang niatnya sekedar shalat sunnah saja (shalat sunnah muthlaq). Semuanya ini dibedakan dengan niat.
Yang termasuk dalam bahasan niat juga adalah ikhlas. Ikhlas yang dimaksudkan adalah kadar tambahan dari sekedar niat beramal semata. Dalam ikhlas ada tambahan selain niat beramal, ada pula niat kepada sasaran ibadah (al ma’mul lahu). Inilah yang disebut ikhlas. Ikhlas artinya seorang hamba memaksudkan amalnya untuk mengharapkan wajah Allah, tidak ingin mengharapkan yang lainnya.
Di antara contoh penerapan kaedah ini
Kaedah ini berlaku untuk seluruh ibadah seperti shalat yang wajib dan yang sunnah, zakat, puasa, i’tikaf, haji, ‘umroh, seluruh ibadah yang diwajibkan dan ibadah yang disunnahkan, udhiyah (qurban), hadyu (sembelihan di Makkah), nadzar dan kafarot, jihad, memerdekakan budak, dan membebaskan budak mudabbar.
Kaedah ini juga berlaku untuk perkara yang mubah. Jika perkara yang mubah diniatkan agar kuat dalam melakukan ketaatan pada Allah, atau perkara mubah sebagai sarana kepada ketaatan, contohnya adalah makan, minum, tidur, mencari nafkah, nikah, maka amalan ini pun bernilai pahala. Contoh lainnya adalah hubungan biologis dengan istri atau dengan budak wanitanya dengan maksud untuk menjaga diri dari zina, atau tujuannya untuk menghasilkan keturunan yang sholeh atau untuk memperbanyak umat, jika niatannya seperti ini, maka akan membuahkan pahala.
Hal yang perlu diperhatikan
Perkara yang ditujukan pada hamba ada dua macam, yaitu (1) perkara yang diperintahkan untuk dikerjakan dan (2) perkara yang diperintahkan untuk ditinggalkan.
Untuk perkara yang diperintahkan untuk dikerjakan, maka harus ada niat di dalamnya. Niat ini adalah syarat sahnya amalan tersebut dan juga syarat untuk memperoleh pahala. Contoh ibadah yang diperintahkan adalah shalat.
Untuk perkara yang diperintahkan untuk ditinggalkan, seperti menghilangkan najis pada pakaian, badan atau tempat, seperti pula  melunasi utang yang wajib, maka untuk hal melepaskan kewajiban semacam ini tidak disyaratkan adanya niat. Tetap sah, walaupun tidak berniat.
Adapun agar amalan itu bernilai pahala, maka harus ada niat di dalamnya, yaitu niat mendekatkan diri pada Allah. Wallahu a’lam.
***
Alhamdulillahillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Diterjemahkan dari Al Qowa’idul Fiqhiyah, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, terbitan Darul Haromain, 1420 H, hal. 15-17.

Ahass Motor, Magelang Street, Sleman-DIY, Wed-29th Shafar 1432 H (2/2/2010)


[1] HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907
03.56 Diposting oleh Jamaaluddin eM Zet 0

Meneruskan Lebih Mudah daripada Memulai

Kaedah berikut harus dipahami oleh setiap penuntut ilmu syar’i sebagaimana nasehat Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah. Kaedah ini dapat diterapkan dalam beberapa masalah seperti apakah kita boleh melanjutkan shalat sunnah dan kita sudah berada di raka’at kedua, tinggal meneruskan. Masalah tersebut bisa terjawab dengan memahami kaedah ini.
Kaedah ini dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin dengan lafazh,
الاستدامة أقوى من الإبتداء
“Meneruskan itu lebih kuat daripada memulai.” (Syarhul Mumti’, 7: 156).
Ibarat lain diungkapkan oleh ulama lainnya seperti dari Ibnu Nujaim dalam Al Asybah wan Nazhoir dengan ungkapannya,
البقاء أسهل من الإبتداء
“Tetap (melanjutkan) itu lebih mudah daripada memulai.”
Ibnu As Subkiy dalam Al Asybah wan Nazhoir juga berkata,
يغتفر في الدوام ما لا يغتفر في الإبتداء
“Sesuatu yang dilanjutkan itu dimaafkan, namun tidak dimaafkan ketika memulai.”
Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al Fatawa (32: 148) mengungkapkan,
وَالدَّوَامُ أَقْوَى مِنْ الِابْتِدَاءِ
“Meneruskan lebih kuat daripada memulai.”
Pengertian Kaedah
Maksud kaedah, terus melakukan suatu amalan lebih mudah daripada memulainya dari awal. Dalam memulai butuh sesuatu daripada sekedar melanjutkan. Karena yang terus ada lebih kuat hukumnya.
Kaedah ini menunjukkan bahwa ada perbedaan antara hukum meneruskan suatu amalan dan hukum memulai. Kedua hal ini telah dibedakan dalam Al Qur’an, As Sunnah, ijma’ dan qiyas.
Kenapa sampai meneruskan itu lebih mudah atau lebih kuat? Karena jika sesuatu sudah terlanjur terjadi, maka sukar untuk dihilangkan atau dihentikan. Seandainya antara memulai dan mempertahankan itu disamakan, maka manusia akan mendapati kesulitan yang sangat. Oleh karenanya, syari’at Islam membedakan kedua hal ini. Islam memudahkan untuk meneruskan, namun tidak halnya untuk memulai.
Insya Allah, maksud kaedah ini akan semakin jelas jika memperhatikan contoh yang akan penulis sampaikan.
Dalil Kaedah
Dari Ibnu ‘Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اغْسِلُوهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ ، وَكَفِّنُوهُ فِى ثَوْبَيْنِ ، وَلاَ تُحَنِّطُوهُ وَلاَ تُخَمِّرُوا رَأْسَهُ ، فَإِنَّهُ يُبْعَثُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُلَبِّيًا
Mandikanlah mayit tersebut dengan air dan daun bidara, kafanilah ia dengan dua kain, janganlah ia diberi wewangian dan jangan kepalanya ditutupi karena kelak pada hari kiamat, ia akan dibangkitkan dalam keadaan bertalbiyah.” (HR. Bukhari no. 1265 dan Muslim no. 1206). Hadits ini menjelaskan bahwa orang yang mati dalam keadaan berihrom tetap tidak boleh diberi wewangian. Ia tetap dalam keadaan seperti ketika ia meninggal dunia.
Dalam hadits ‘Aisyah disebutkan,
كُنْتُ أُطَيِّبُ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - بِأَطْيَبِ مَا يَجِدُ ، حَتَّى أَجِدَ وَبِيصَ الطِّيبِ فِى رَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ
Aku dahulu pernah memberi wewangian pada Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dengan wewangian terbaik yang beliau dapatkan, sampai aku melihat kilatan bekas wewangian di kepala dan jenggotnya.” (HR. Bukhari no. 5923 dan Muslim no. 1190). Hadits kedua menunjukkan bahwa bekas wewangian setelah masuk ihrom, tidaklah bermasalah.
Dari pemahaman kedua hadits di atas menunjukkan bahwa memulai mengenakan wewangian saat sudah ihrom tidak diperbolehkan. Namun jika wewangiannya masih ada dari pemakaian sebelum ihrom, maka tidaklah masalah. Sehingga disimpulkanlah kaedah, “Melanjutkan lebih mudah masalahnya dibanding memulai dari awal.” Inilah dalil kaedah yang kita kaji.
Contoh Penerapan Kaedah
1- Tidak boleh memulai shalat sunnah saat iqomah dikumandangkan. Namun jika seseorang sudah memulai shalat sunnah sebelum iqomah lantas ketika iqomah, ia berada di raka’at kedua, maka shalat sunnah tersebut tidak diputus. Akan tetapi, hendaklah ia menyempurnakannya hingga salam. Karena kaedah menyatakan “terus melanjutkan lebih kuat daripada memulai dari awal”.
2- Jika ingin menikah, maka harus dengan ridho si wanita. Namun jika rujuk setelah suami mengeluarkan ucapan talak, tidak dibutuhkan ridho wanita. Karena rujuk (dalam masa ‘iddah) berarti meneruskan nikah, bukan memulai akad baru. Dalam kaedah dinyatakan bahwa melanjutkan lebih mudah daripada memulai.
3- Jika seseorang memakai pakaian ihrom dan sebelumnya mengenakan harum-haruman di badan. Lalu setelah itu, ada wewangian yang mengenai pakaian ihrom dari badan sehingga pakaian ihrom menjadi wangi, maka seperti ini tidak termasuk dalam pelanggaran ihrom. Karena ketika itu wangian tadi berpindah dengan sendirinya bukan dipindahkan dan kaedah menyatakan bahwa keadaan melanjutkan lebih kuat daripada memulai.
Semoga kaedah fikih di atas bermanfaat. Wallahu a’lam.

Referensi:
Al Qowa’id wadh Dhowabith Al Fiqhiyyah ‘inda Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, Syaikh Turkiy bin ‘Abdillah bin Sholih Al Maiman, terbitan Maktabah Ar Rusyd, tahun 1430 H, 2: 579-585.
---
@ Mabna 27, kamar 201, Jami’ah Malik Su’ud Riyadh KSA
23 Rabi’ul Awwal 1434 H di waktu Zhuhur
03.55 Diposting oleh Jamaaluddin eM Zet 0